Guci untuk Nenek

Panas matahari teduh tertutup rimbun daun. Bunyi jangkrik dan serangga terdengar. Di kesunyian kebun rimbun itu, Ager sibuk memilih daun kering untuk tugas prakaryanya besok.

Ia memilih daun yang benar-benar kering tapi tidak rapuh. Beberapa hari yang lalu guru prakarya Ager mengimbau agar semua siswa dapat membawa daun yang bagus. Daun-daun itu akan dicat dan ditempel di guci tanah liat.

Setelah mendapat satu kantung plastik Ager pulang. Di rumah ia benar-benar cermat memilih daun. Ia ingin menghasilkan karya yang sempurna. Setelah 10 menit berkutat dengan daun kering, Ager mendapat 4 daun terbaik. Ager segera menyimpan daun di kotak agar tidak terinjak.

“Nah pertama daun yang udah kalian bawa dicat,” teriak Bu Ani, guru prakarya.

Ager membuat warna gradasi di daunnya. Ia memilih warna merah, kuning, dan oranye.

“Nah kalo sudah, daunnya kalian tempelin di gucinya. Awas, jangan sampe pecah,” kata Bu Ani sambil memperaktekkan.

Ager dengan hati-hati menempelkan daunnya. Ager tersenyum melihat guci coklatnya dihiasi dengan lukisan daun-daun gradasi.

“Terakhir angin-anginkan 5 menit. Agar catnya kering,” Ager memilih posisi terbaik untuk guci nya.

Lima menit kemudian para siswa mengambil guci mereka untuk dinilai. Tibalah saat giliran Ager.

“Wah Ager ini kamu yang ngecat?” Ager yang menenteng gucinya mengangguk.

“Ada daun katsuba, calatea, palem zania, dan daun tanduk rusa mini,” Bu Ani menatap guci Ager lama.

Teman teman Ager mengerubungi mereka di depan. Ager menggaruk kepala. Ia tak mengerti dengan nama namanya.

“Wah ini indah sekali. Ager guci ini boleh dipajang di lemari hiasan sekolah tidak?” Bu Ani bertanya.

Ager agak keget mendengar pertanyaan itu. Hasil karyanya bisa dapat di pajang di dalam lemari itu merupakan salah satu kebanggaan tersendiri. Tapi niat Ager untuk membuat guci itu menjadi bagus berbeda.

“Maaf Bu Ani. Guci nya ingin saya bawa pulang,” Ager berkata sopan takut dimarahi. Bu Ani langsung terdiam.

“Ah, ok, itu tidak masalah ini Ager. Nilai prakaryamu 9!” Bu Ani langsung menulis angka di daftar nama kelas.

Ager kembali ketempat duduk ia tak sabar menunggu waktu pulang. Beberapa jam kemudian pelajaran sudah selesai. Ager langsung cepat cepat ke rumahnya dengan sepeda kesayangannya.

“Aku pulang,” Ager masuk rumah setelah memberi salam. Ia menyembunyikan guci di belakangnya.

“Wah udah pulang. Sini-sini makan siang. Ager lapar kan?” Nenek Ager menyambutnya. Ia terlihat lelah setelah masak.

“Oh iya nek waktu itu maafin Ager ya,” Ager menunduk teringat kesalahan lalunya. Ia sempat memecahkan guci tanah liat nenek yang diberikan bude nya.

“Ya ampun Ager nenek udah lupa itu udah lah,” nenek tersenyum guratan keriputnya terlihat jelas.

“Ini ya nek buat pengganti yang Ager pecahin,” Ager menyerahkan guci nilai 9 nya. Nenek tersenyum membelalakkan mata. Nenek langsung menaruh guci itu di atas lemari bajunya.

“Terima kasih Ager nenek senang sekali,” nenek tersenyum memandangi guci itu. (AZH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *