Kado untuk Kakak

ditulis 3 Januari 2019

“Udah deh kakak beliin buku cara mengelola barang bekas,” ucap kakak sebel.

“Ya udah huh,” aku kembali ke kamar. Aku menghempaskan tubuh ke kasur.

“Kakak cerewet,” ucapku memaki. Kakakku adalah wakil ketua komunitas pecinta alam. Jadi setiap ada barang bekas pasti dia coba untuk menjadi barang yang berguna. Tidak seperti aku yang langsung membuang begitu saja. Tadi kakakku mempergokiku sedang membuang sampah yang menurutnya berguna.

Dua hari kemudian buku yang kakak janjikan ada di tanganku. Aku menaruh buku itu malas. Saat itu mataku menangkap sesuatu. Aku terpekik kaget. Aku melihat tulisan yang tertera di kalender.

Besok kakakku ulang tahun.

Aku panik aku ingin memberinya kado, tapi aku sadar kalau aku tidak memiliki uang. Aku bingung. Jika gak ada uang, aku harus bikin sendiri dong. Gimana caranya. Aku segera sadar bahwa aku memiliki buku pengelolaan barang bekas yang tadi kakak berikan.

Aku membolak-balikan halaman. Mataku tertuju pada judul “Pin dari Kain Perca”. Setahuku di rumah banyak kain perca karena bunda sering membuatnya menjadi gorden. Aku memperhatikan cara pembuatannya. Simpel dan menarik.

Aku segera berlari menuju bunda. “Bun, aku boleh minta kain perca ga?” tanyaku pada bunda.

“Boleh. Ambil saja sesukamu,”ujar bunda sambil tersenyum.

Setelah mengucapkan terima kasih aku lantas berlari menuju ruang keluarga. Di situlah tempat bunda menaruh kain perca dan peralatannya. Aku mengambil beberapa helai. Aku segera kembali menuju kamar dan menyiapkan bahan selanjutnya. Lem, gunting, dakron, gantungan,dan mata mataan.Aku mempunyai semuanya, kecuali pin.

“Aduh gimana nih. Aku ga punya pin,” aku segera ingat bunda. Seharusnya bunda punya.

“Ga ada Nak. Kamu mau buat apa sih? Bunda pemasaran.”

Aku tersenyum kecut. Bunda tidak punya. Aku ganti apa dong. Aku memperhatikan gambar hasil barang di buku. Bagus sekali. Aku berpikir keras. Aku pakai apa ya?

Entah dari mana ide brilian itu muncul. Gimana kalau gantungan kunci? Aku girang. Aku mempunyainya.

Aku segera membuka laci meja belajarku. Aku ingat punya beberapa gantungan. Aha benar saja. Aku segeracmeraihnya dan membuat gantungan.

Aku ingin membuat gantungan kunci berbentuk burung hantu. Aku mencoba langkah demi langkah.

Aku mengusap peluh.

Sentuhan terakhir adalah aku menempelkan hiasan mata dan jadi. Aku senang sekali. Aku membuat 2 gantungan dengan motif kain yang berbeda.

Saat sedang memperhatikan gantungan dengan ceria, tiba tiba ada yang masuk ke kamarku.

“Dik pinjam lem dong,” kepala kakak tiba-tiba nongol.

“Waaaaw..,” aku kaget.

Kakak juga kaget mendengar teriakanku. Aku segera rebahan di atas peralatan dan gantungan kunci tadi.

“Kakak nanti dulu dong. Aku lagi pakai.”

Kakak mendelik. “Kamu bikin apa sih,” kakak mendekat.

“Kakak sana,” aku segera melempar bantal.

“Iya iya galak banget sih,” kakak mendengus.

“Fyuh”.

Aku melanjutkan hasil karyaku. Aku tinggal membungkusnya dengan kertas kado. Selesai.

Aku menambahkan pita bewarna biru agar lebih cantik. Aku tersenyum. Seru juga. Aku segera membereskan peralatan dan membawakan lem untuk kakak. “Nih.”

Esok harinya kami sekeluarga merayakan ulang tahun kakak.

Kami satu persatu memberi kado. Saat tiba giliranku, aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Kakak segera membuka semua kado. Kakak tersenyum dan terpekik girang. Saat tiba kado ku dibuka kakak tersenyum.

“Waaaaw, ini adik bikin sendiri?”

Aku mengangguk.

“Wah bagus.” “Wah lucu.” Terdengar seruan- seruan.

“Pantas saja kemarin adik minta kain,” ucap bunda. Aku tertawa. Aku puas kakak suka dengan kadoku. (AZH)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *