Keping Biskuit

Bal merapatkan jaketnya. Udara berdesir dingin di tengkuknya, membuat Bal berjalan cepat menuju rumah. Sambil tersenyum ia mengucapkan salam di depan pintu bambu yang telah usang.

“AH! BAL PULANG!” seorang anak berumur 5 tahun menubruk Bal. Fio.

“Haha ayo cepat masuk, udara dingin sangat menusuk tulang hari ini,” Bal menutup pintu.

Tiba tiba kedua anak kembar menghampiri Bal. “Halo Bal,” Wen duduk di lantai tanah beralaskan tikar kusam.

“Maaf kan Bal yang lama datang. tadi pak Ben memintaku untuk membersihkan garasinya. Pak Ben memberiku satu bungkus biskuit,” Bal menyerahkan biskuit kepada Leo saudara kembar Wen.

“Wah, enak nih jarang-jarang kita bisa amalan kayak gini,” Leo membuka biskuit.

Kedua saudaranya langsung mengerubunginya. Bal tersenyum muram. Semenjak orang tua mereka telah tiada Bal harus putus sekolah untuk membiayai kehidupannya dan adiknya. Dengan warisan rumah bambu tua warisan orang tuanya. Bal sudah lupa saat ia bisa duduk di kelas dengan suasana ramai. Ia segera menepis kejadian itu, menuju dapur untuk memasak.

“Bal… Biskuit nya ada lima nih… Satu-satu ya,” Fio berteriak.

“Iya kalian makan saja,” sahut Bal.

Bal mulai memasak tahu goreng. Ia juga mengecek persediaan beras yang ternyata besok sudah habis. Setelah selesai, ia membawa mangkuk nasi dan lauk. Terlihat ke tiga adiknya sedang bertengkar.

“KENAPA KAU MAKAN HAH?!” Bal terlonjak kaget membuat gelas yang dibawanya jatuh. Seketika hening. Ketiga adiknya menatap Bal yang kebingungan. Sambil membereskan gelas Bal bertanya dengan tenang.

“Ada apa sih? Ribut sekali,” Fio berjalan takut takut.

“Tadi aku Bal yang berteriak,” ucap Fio mengakui.

“Kenapa Fio?” Tanya Bal.

“Leo memakan dua biskuit jadi sisanya tinggal satu padahal aku dan Wen ingin menyisakan dua untukmu,” jelas Fio.
Bal tersenyum. “Ya ampun jangan bertengkar karena makanan ah, Bal sudah kenyang biskuit itu. Kamu bagi tiga ya Wen. Untukmu, leo, dan Fio,” Bal menunjuk Wen.

Wen bergegas memotong keping biskuit tadi jadi tiga.

“TAPI…” Fio berteriak. “Hey sudah dimakan saja keburu basi,” Bal duduk sambil menyerahkan makanan yang dia masak.

Wen berbisik. “Kau tak apa tidak mendapat biskuit? Mau punyaku?” Tanya Wen yang menyodorkan biskuit nya.

“Tak usah Wen kan aku tak suka biskuit,” ucap Bal.

“Kau tak bisa menipuku. Aku tau kau suka biskuit. Makanlah,” Wen kembali menyodorkan biskuitnya.

Bal tersenyum. Ia memang tak pandai membohongi adik terbesarnya. Namun Bal tidak mengalah. Ia menolak. Wen mendengus duduk melingkar untuk makan malam. Bal tersenyum bisa membuat para adiknya senang. (AZH) 05/08/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *