Maafin Tifany ya Ayah Ibu

“Daaaaaah…. nurut sama nenek ya Tifany,” mama dan papa melambaikan tangan mereka. Aku tersenyum. Perlahan taksi Silver Bird yang mereka naiki mengecil di kejauhan dan menghilang. Sepasang tangan memegang pundakku. “Udah ga usah nangis. Nanti nenek ajak jalan-jalan deh,” Nenek mengelus rambut pendekku. “Siapa yang nangis huh,” aku langsung kembali masuk ke dalam rumah, menuju kamar. 

Mama dan papa harus pergi ke Tokyo, Jepang selama beberapa minggu karena ada konferensi make up pengusaha besar. Sebagai CEO make up, mama di wajibkan mendatangi acara itu. Dan papa juga harus pergi ke Tokyo Karena ia seorang manager minuman boba terlaris di ibu kota. Papa diminta atasannya untuk ikut dalam mempromosikan produk minuman boba di Tokyo. Karena aku tidak berminat ikut dan tidak mungkin ditinggal di rumah. Akhirnya diliburan kenaikan kelas ini aku dititipkan di tempat nenek. 

“Akh boseen,” aku kembali beranjak. Di tengah tangga aku berpapasan dengan nenek. “Neeek bosen nih,” aku melemaskan diri di pegangan tangga.  “Hmm…” Nenek tampak berpikir. “Sini deh ikut nenek,” nenek yang hendak naik jadi turun kembali. “Mau kemana? Kalo ga seru ga mau,” aku mengikuti dengan malas. Kami berdua melewati ruang keluarga dan dapur. Banyak interior yang asing buatku. Mungkin karena aku berkunjung ke sini terakhir saat masih TK. Nenek berbelok menuju pintu kaca dengan panjang 2 meter. Lalu nenek mendorong gagang pintu. Pemandangan di balik pintu sangat mengagumkan. Hamparan bunga berwarna warni dihiasi dengan kupu-kupu dan lebah di atasnya, angin yang memainkan ujung rambut membawa semerbak wangi bunga, rumput halus menggelitik jari kaki.

Aku melangkahkan kaki bejalan mendekati sekawanan kupu kupu. “Nah gimana masih bosen?” Nenek berjalan mendekati Tifany. Aku menggeleng. Perhatianku tertuju pada sekumpulan kupu-kupu. Diantara sekian banyak kupu kupu, terdapat satu yang menurutku paling indah. Warna kedua sayapnya sapphire gelap dan di ujungnya terdapat warna azure. Di sayap kupu kupu itu juga terdapat bintik berwarna pebble. Tak hanya itu antena nya juga berwarna midnight bergaris garis sable. Warna kupu-kupu itu menghasilkan kesan di hatiku. Misterius dan indah. “Warnanya sama dengan bajumu,” nenek menunjuk rok selutut yang sedang kukenakan. Aku mengangguk. Kupu kupu itu hinggap di tangan kanan nenek. “Cantik banget ya Nek,” Nenek mengangguk. “Tifany masih ingat tempat ini?” Nenek bertanya. Kupu-kupu di tangannya terbang. “Enggak. Aku udah lupa banget. Terakhir aku kesini kalo ga salah pas TK kan?” Tifany mengamati kupu-kupu di tangan nenek yang sekarang sudah berpindah ke Bunga Matahari. “Iya. Pas TK. Tifany dulu masih keciiil sekali sekarang udah tinggi saja,” Nenek memutar badannya hendak masuk ke dalam. “Oh iya nek, kebun ini taman belakang ya?” Nenek menoleh dan mengangguk. “Di belakang taman ini ada hutan yang terawat Tifany kalo mau ke hutan sana harus bareng nenek. Di sana ada penjual es krim sama sosis bakar. Mau kesana?” Nenek menjatuhkan pandangannya ke hutan yang terawat itu. “Enggak usah lain kali aja,” aku ikut melangkah memasuki rumah. 

Sesampainya di dapur seorang pelayan membawa loyang berwarna abu-abu bertanya padaku. “Dik Tifany mau cemilan apa untuk pembuka makan siang?” Nenek berjalan membuka kulkas mengeluarkan buah segar. “Hmm apa ya… Aku jarang makan makanan pembuka sih,” aku melipat tangan sibuk berpikir. “Mau nenek buatin golden salad?” Nenek menyahut sambil memotong buah semangka. “Golden salad?” Aku tidak pernah mendengar makanan itu. “Golden salad itu campuran sayuran kayak arugula, lobak, bawang, anggur, dan pistachio panggang. Nah di atas salad itu nanti ditaburi keju. Biasanya salad golden dipakaikan saus ceviche jeruk nipis,” jelas nenek. “Kayaknya aku ga cocok sama salad kaya gitu deh. Aku minta mint puding aja,” ucapku pada pelayan. “Maaf ya nek aku ga pilih saladnya,” aku mencomot semangka yang nenek potong. “Hahaha… Selera orang berbeda Tifany kamu kan makannya sedikit jadi salad kaya gitu pasti terlalu kenyang kalo buat appetizer,” nenek menaruh pisau di tempat cuci piring. Aku membantu membawakan semangka yang sudah di potong nenek menuju ruang santai. “Jadi jadwal kamu hari ini mau ngapain?” Nenek bertanya sambil mengambil potongan semangka. “Hmm… di rumah aja sih. Mungkin baru besok atau lusa aku jalan jalan di kota ini,” aku menyalakan televisi dan memilih chanel. “Gimana kalo keliling rumah? Udah lama kan ga kesini jadi udah lupa,” nenek menaruh perhatiannya pada layar di depan nya. Aku mengangguk. “Ide bagus,” Akhirnya seharian itu nenek dan aku berkeliling di sekitar rumah. 

Esoknya cuaca cerah. Aku memutuskan untuk pergi ke dalam hutan. Sesuai janjiku pada nenek, jika ingin pergi harus mengajak beliau. “Mau ke hutan? Ok deh nenek siap siap dulu,” aku memasukan beberapa lembar uang ke dalam saku. 15 menit kemudian nenek sudah memakai topi dan membawa sesuatu. “Pakai ini,” nenek menyodorkan sebuah tube. Lotion anti nyamuk, aku segera memakainya. “Tifany ga mau digigit nyamuk kan?” Nenek menuju pintu utama. “Baju Tifany cocok sekali dengan cerah nya pagi ini ya…” Nenek mengamati ku dari ujung rambut sampai kaki. Rambut ku yang pendek dihiasi dengan bando bergaris berwarna putih dan biru, untuk atasan aku memakai kemeja putih berlengan pendek, untuk bawahan aku memakai floral Maxi skirt. Tak hanya itu aku juga memakai ikat pinggang kulit bewarna cinamon dan sendal jepit berpita biru. 

Aku mengangkat bahu  sembari  membuka pintu utama. Dari depan rumah kami berdua belok kiri setelah beberapa ratus meter kami sampai di depan gerbang hutan. Aku dan nenek melangkahkan kaki selama hampir 20 menit kakiku sudah terasa pegal. “Bentar lagi ada penjual makanan. Di situ kita bisa duduk,” nenek menyemangatiku yang sudah berjongkok memijat kaki. Mungkin karena aku jarang jalan jauh. Aku kembali berjalan benar saya beberapa ratus meter terdapat penjual jus buah dan kerang bakar. “Jangan beli kerang bakarnya ya. Takut ga bersih,” aku mengangguk. Ucapan nenek bener benar mirip mama. Aku memesan jus strawberry sedangkan nenek memesan jus sirsak. Kami berdua menikmati minuman segar itu. “Nek aku buang sampahnya ya,” aku meraih kedua gelas kosong, bekas jus yang aku dan nenek minum. Nenek mengangguk. Aku berjalan menuju selatan letak tempat sampah berada, memunggungi nenek. 

Saat hendak berbalik aku melihat sebuah sumur. “Sumur apaan tuh masa di hutan kaya gini ada sumur,” bukannya izin terlebih dahulu aku malah melangkah mendekati sumur yang berjarak sekitar 200 meter dari tempat sampah. Semakin dekat sumur itu terlihat semakin jelas. Sumur itu tertutup semak semak. Hanya mata jeli yang bisa menyadari sumur itu. Jarak ku dengan sumur itu tinggal 10 langkah. Sumur itu lebih pendek dari sumur yang biasa kulihat. Panjang nya diatas tanah hanya sekitar 80 cm. Terbuat dari bebatuan yang sudah berlumut. Aku mencoba mengintip. “Waaa,” aku tidak mempercayainya. Sumur tua itu berisi air jernih ujungnya tidak kelihatan. Terlihat sangat dalam. Di permukaan airnya terdapat ikan berwarna emas kecil. “Lucu amat dah,” aku memandangi sekitar. “Emangnya ga ada petugas yang nyingkirin sumur ini ya,” aku kembali mengalihkan perhatian. Dan tiba tiba saja ada sesuatu yang jatuh dengan lembut di pundak ku. “Apa itu!” Aku menoleh kaget. Diluar dugaan di bahuku ada seekor kupu-kupu. “Waah kupu-kupu..” aku menahan diri untuk tidak bergerak agar hewan di bahuku ini tidak terbang. “Waah kok kayak pernah liat ya…” Aku mengamati kupu kupu itu dengan cermat. Sayap berwarna sapphire dan azure, terdapat bintik pebble. “Akh! Kamuuu!” Aku langsung mengingatnya. Kupu kupu di taman belakang. “Heh kok kamu bisa di sini,” Aku tersenyum bingung. Hewan kecil itu terbang menuju sumur. “Heii nanti kecemplung,” aku berusaha menangkapnya hewan kecil itu. Namun aku tidak memperhatikan tanah di sekitarku. Sendal ku menginjak lumut yang licin. Aku berusaha menggapai ranting pohon namun terlambat. Aku terperosok ke dalam sumur…

Perlahan aku merasakan air menyentuh keningku. Terus hingga menuju lutut. Pandangan ku mulai buram. Sebelum aku merasa benar benar hilang kesadaran sebuah tangan menarik diriku lebih dalam. Menuju dasar sumur…

“Uhuuuk… Uhuuuk…” Aku tersentak. Air keluar dari mulutku. Aku merasakan memar di sekujur tubuh. “Aduh,” aku berusaha duduk. Pandanganku masih belum pulih. Aku masih merasakan sekelebat hitam putih di hadapanku. Seingatku, aku baru saja terjatuh ke dalam sumur. Tanganku berusaha mengusap mata, agar aku bisa melihat. Lalu pandangan di sekitarku mulai jelas.  Terdapat air terjun yang berakhir di sebuah kolam jernih, hutan hutan rimbun, gunung tinggi di belakangku, rumput halus yang ku duduki, langit yang berwarna.. “kuning?” Aku menatap langit di atasku lama.

“Hai!” Sebuah suara terdengar. Aku memusatkan pandangan pada seseorang dengan pakaian seperti di negri dongeng. Ia sedang duduk membelakangiku. Di sekitarnya terdapat banyak asap putih yang membuatku sulit melihat nya lebih jelas. “Bagaimana? Badanmu terasa sakit,” siapapun itu bertanya padaku. Aku mengerutkan kening. Jatuh dari atas sumur masih ditanya sakit? Aku membatin. “A.. aku.. enggak mati kan?” Aku bertanya dengan gemetar. 

“Sayang sekali. Kamu sudah mati,” orang itu berkata mantap. Aku yang sudah mantap berdiri jadi jatuh tersungkur. “M..ma.. ma.. mati?” Aku menatap kedua tangan ku. Pucat. “Ha.. ha.. kau pasti bercanda,” aku tertawa dengan pandangan kosong. “Untuk apa berbohong? Buktinya kau sekarang berada di sini,” orang itu masih belum membalikan badan. “Lalu bagaimana dengan orang tuaku? Nenekku? Seluruh keluargaku?” Aku masih mencerna kejadian yang berlalu terlalu cepat bagiku. Padahal kemarin aku baru saja berpisah dengan papa mama. Tadi aku masih berjalan jalan dengan nenek. “Yaah… Mereka akan segera tahu,” orang itu menjawab seadanya. “Jadi… Aku dimana?” Tanyaku yang masih juga belum percaya keadaan. “Kau berada di sebuah tempat dimana seseorang yang sudah mati boleh meminta satu permintaan dan akan aku kabulkan. Setalah permintaan itu aku kabulkan orang tersebut akan tidur tenang selamanya,” aku mengembuskan nafas. “Ini lagi prank ya? Kok ga bermanfaat banget sih. Mana coba tunjukkin kamera tersembunyinya,” aku menatap sekeliling mencari kamera. “Prank? Apa itu? Waktumu tidak banyak untuk mengucapkan permintaan. Cepat,” ucap orang di depanku menuntut. Aku menarik nafas panjang. Ternyata aku benar benar sudah mati. Ini bukan lelucon April mop. Ini nyata. Aku mulai menangis sekarang. Benar benar menangis. Tangisan ku makin deras. 

Orang di depanku menoleh. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup asap putih. Namun sebuah kupu kupu keluar dari balik pakaiannya. Hewan ini terbang hinggap di kakiku. Lagi-lagi kupu kupu biru “Apa kematian ku gara gara hewan ini?” Aku menunjuk kupu kupu di depanku sambil terisak. “Bukan. Kematianmu murni karena kepleset ke dalam sumur,” ucap seseorang di depanku. “Oh. Kalau begitu kau itu apa? Pasti bukan manusia kan?” Sekarang lengan bajuku basah terkena air mata. “Hmm… Aku ini apa ya? Aku juga tidak tau dan kau tak perlu tau,” ucap seseorang di depanku.

“Ah baiklah. Aku mengusap air mata. Aku boleh mengatakan satu permintaan kan?” Aku berdiri dengan kaki gemetar. “Ya,” kupu-kupu di depanku terbang mengitariku. “Aku ingin kupu-kupu biru ini selalu ada di dekat keluargaku. Aku ingin kupu-kupu ini ada di samping orang tuaku dan nenekku. Aku ingin sebagian diriku yang akan tidur diberikan pada kupu kupu ini untuk menemani orang tuaku. Karena aku anak tunggal,” aku tersenyum. “Aku ingin kupu-kupu ini menjadi pengganti diriku di dunia agar orang tuaku tidak kesepian,” aku mulai meneteskan air mata lagi. “Aku ingin mama dan papaku tetap menjalani kehidupan yang biasa tanpa diriku. Tanpa diriku lagi… Aku ingin dengan melihat kupu-kupu ini papa dan mamaku tidak kesepian. Agar mereka tau aku akan di hati mereka selamanya,” aku menunduk. 

Air mataku sekarang membasahi rumput.

“Permintaanmu itu lebih dari satu,” orang itu menjejakkan kaki. Aku mulai kesal. “Tolong… A.. aku.. ingin.. papa dan mama ku serta nenek ku tidak… Tidaaak..” aku tidak menyelesaikan kalimatku. Aku hanya bisa terisak sekarang. “Baiklah. Ada kata kata terakhir sebelum kau akan benar-benar tenang?” Seseorang di depanku menoleh. Dan lagi lagi aku tak bisa melihatnya. Aku menarik nafas panjang. Panjang sekali “Papa mama… Maafkan Tifany yang selalu nakal, maaf kan Tifany yang selalu merengek, maafkan Tifany yang belum bisa menjadi kebanggaan. Maafkaan… Maafkan Tifany… Benar benar maafkan..” 

Tepat saat kalimatku benar benar selesai. Sekelilingku mulai berubah semuanya menjadi cahaya redup. Dan aku terangkat. Aku merasa seperti angin yang berhembus. Cahaya di sekelilingku mulai bertambah gelap. Cahaya itu memandu mataku untuk terpejam. Dan beberapa detik kemudian orang di depanku menoleh. Aku bisa. Aku bisa melihat wajahnya. “Akan ku kabulkan,” seseorang dengan rambut panjang yang sedari tadi mengajakku bicara tersenyum. “Terima kasih…” Aku tersenyum. Cahaya di sekelilingku sudah mengaburkan pengelihatan ku. Lalu perlahan… mataku tertutup. (AZH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *