Rahasia Besar di balik Jernihnya Air Danau

“Udah lama ya?” Aku memasukan ke dua kakiku ke dalam kolam itu. Sebagai jawaban, ia beriak kecil. Aku tersenyum mengingat kenanganku pertama kali dengan danau kecil ini.

                                      •••

“Udah enggak ada yang ketinggalan kan?” Mama bertanya memastikan. Aku diam saja. “Faz masih marah gara-gara kemarin?” Aku mengembungkan pipi. Berjalan dengan langkah kaki sengaja dihentak-hentakan menjauhi mama papa. Papa menaikan alisnya. Ia segera menghampiriku. “Faz kemarin kan papa cuma bantuin, masa marah sama papa?” Papa menyentuh kepalaku. “Huh,” aku menepis tangan nya. Membuat sunyi sementara waktu. 

“Kan mama harus bantuin beresin koper. Nanti kalo ada yang ketinggalan gimana?” Papa berusaha berbicara. “Aku tuh bisa nyiapin baju sendiri! Ga usah dibantuin. Ga bakal ada yang ketinggalan!” Papa kembali menyentuh kepalaku. “Ya udah deh nanti kalo kita pergi lagi kamu boleh beresin baju sendiri. Tapi kalo ada yang ketinggalan jangan salahin papa mama loh ya,” aku masih cemberut. Meski sudah sedikit lega. 

“Nanti di bandara kita beli es krim yuk. Tapi jangan bilang bilang mama,” papa berbisik. Akhirnya aku menoleh dan mengangguk. “Rasa Oreo sama coklat,” aku meminta. Jarang jarangkan dibolehin makan es krim. “Iya jangan bilang mama loh ya,” papa mengangkat jari kelingkingnya. Aku melakukan hal yang serupa pula. 

“Bisik-bisik apaan nih kok seru banget kayaknya?” Mama tiba tiba sudah ada di samping mereka. “Ahaha enggak ga ada apa-apa,” aku tersenyum. “Iya kan pa?” Aku menyenggol bahu papa. “Nah, kalo gitu udah semua kan? Ayo berangkat!” Mama menarik koper dan kami semua menaiki taksi yang siap melesat menuju bandara. 

                                       •••

“Neneeek,” aku menubrukkan diri ke dalam pelukan hangat. “Gimana perjalanannya? Istirahat dulu tuh. Kamarnya udah nenek siapin,” nenek mencubit ke dua pipiku. “mau es krim,” aku mengadah. “Tenang tenang di kulkas ada banyak es krim, Faz suka es krim kan?” Aku mengangguk senang dan langsung berlari mengambil es krim. 

“Faaaaz kamu udah makan di bandara tadi. Gak boleh, nanti sakit,” mama yang masih mendorong koper di halaman berteriak. “Udah lah Ran. Biarin aja sekali kali Faz makan es krim,” nenek tersenyum membelaku. “Dulu Ran suka banget sama es krim juga kan,” mama langsung terbelalak. ” jangan diungkit ungkit Bu…” Mama meringis. “Tadaaa es kriim…” Aku membawa 2 bungkus es krim dari dalam freezer. “Papa mau ga?” Ucapku sambil menyodorkan es krim rasa green tea. “Nanti aja. Papa mau beresin koper,” papa memasukan semua koper ke dalam kamar yang sudah disediakan nenek. Mama membantu nenek membuatkan makan siang, dan aku di tinggal sendiri. 

“Mau jalan jalan ah,” sambil menggenggam dua es krim aku berjalan menuju depan rumah. “Wah udaranya enak. Ga kaya di rumah,” aku berjalan sambil menendang krikil kecil. Aku berjalan semakin jauh. Sekitarku berubah menjadi pepohonan. Dan di depan sana aku melihat danau. “Waah air apa ini?” Aku merangkak mendekati danau. Rumput-rumput kasar mengenai lututku. “Airnya bersih ya ga kaya di dekat rumah. Ini enggak dalem kan ya?” Tanyaku sendiri sambil melongo. Tangan ku menyentuh permukaan air. “Dingin.” 

Riak-riak kecil muncul di sekitar tanganku. “Wah ada ikannya ga ya?” Baru saja berucap, sebuah ikan kecil berwarna emas melintas di bawah tanganku. “Ih lucu ikannya,” ikan berwarna emas itu sekarang bukan nya hanya satu. Tapi 5! “Halooo ikaaaan,” tanganku dikerumuni ikan. “Kalian makan apa di sini? Aku di rumah nenek makan ayam bakar. Enak loooh ayam buatan nenek. Kalian harus cobain deh, kapan-kapan aku bawain ya,” tawa kecilku membuat ikan ikan semakin mendekat. Aku mendekatkan wajah ku pada permukaan air agar ikan terlihat semakin jelas. Aku mengamati pantulan diriku di permukaan danau.

Dan tiba tiba saja pantulan diriku menghilang. Bukan hanya diriku, namun pepohonan yang semula ikut terpantul juga menghilang. Terganti dengan permukaan air yang kosong, tanpa bayangan. “Loh aku kok ga ada?” Tanyaku sendiri sambil menceburkan kedua tangan. Lalu aku perlahan melihat bayangan. Namun ada yang aneh. Bayangan permukaan danau bukan diriku namun sosok lain.

“Loh itu siapa? Cantik banget,” aku melihat seseorang dengan umur sekitar 20 tahun, memaki syal dan sepatu boots yang sedang memainkan kakinya di dalam air. “Kok air nya kaya tv sih? Bisa ganti pemandangan. Kenapa ada orang lain?” Aku masih tidak mengerti. Perempuan yang aku lihat seperti sedang berbicara sendiri. Ia tersenyum menatap langit. 

“FAAAAAAAZ KAMU DIMANAAA NAAAAK,” seseorang berteriak dan tiba-tiba bayangan perempuan tadi menghilang. “Loh papa?” Aku menoleh. Aku melihat papa yang pakaiannya sudah berantakan tidak karuan. “FAZ! KAMU KENAPA PERGI GA BILANG!” papa berlari mendekatiku. Aku mundur beberapa langkah mendengar teriakan papa. “Kamu kenapa ga bilang dulu Faz! Mama, papa, sama nenek nyariin kamu dimana mana! Kami kira kamu lagi makan es krim di dapur, tapi pas liat ga ada!” Papa menaikan suaranya membuat mataku berkaca-kaca. “Aku cuma jalan jalan doang,” aku mulai menangis. Membuat papa menurunkan intonasi suaranya.

“Cup cup cup maaf papa marah. Lagian kenapa Faz pergi sendirian? Kenapa ga izin dulu? Kalo Faz tersesat gimana?” Papa menepuk kepalaku untuk meredakan tangis. “Lagian aku kan bosen,” aku kembali duduk di rerumputan dan memegang air danau. “Lain kali ga boleh kaya gitu,” papa memperingatkan. Aku mengangguk. 

“Oh iya Pa. Masa tadi aku lihat perempuan cantik banget. Dia ada di sini,” aku menunjuk permukaan danau. Mengingat kejadian tak lama terjadi. “Hah?” Papa menilik danau. Dahinya berkerut. “Iya tadi ada perempuan cantik banget dia lagi duduk sambil mainin air,” jelasku. Papa mengangkat jari telunjuknya. “Ah papa tau! Itu pasti kamu Faz. Kan perempuan cantik lagi main air. Siapa lagi kalau bukan Faz,” ucap papa tidak serius menanggapi. “Ih bukan akuu,” akhirnya kami berdua pulang.

Sesampainya aku langsung dimarahi mama. Padahal kan aku cuma bosen. Ga salah kan? 

                                    •••

“Hahaha dulu aku ga tau loh kalo orang yang waktu itu diriku sendiri,” aku memainkan kaki di dalam air. “Yang aku liat waktu itu nyata kan ya? Buktinya sekarang aku pakai baju sama persis,” angin memainkan rambutku. Membawa aroma sore hangat. “Kayak ngeliatin masa depan ya,” aku tersenyum menatap danau bisu. “Hah. Mungkin waktu itu aku cuma mimpi kali ya apa ngehayal. Udah sore nih, pulang ah dari pada dicariin,” sebelum aku berdiri. Danau di hadapanku beriak kecil. Dan ia menampakan suatu bayangan. Bayangan yang akan terjadi padaku di masa depan. (AZH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *