Teguran Tuhan Buat Kazumi

“Yaaak selanjutnya,” tariak perempuan tua itu dari depan. Aku melangkah maju. Menghadap perempuan itu. “Hm… Kematianmu karena kecelakaan ya,” ucapnya membaca sebuah kertas. Aku mengangguk. Ya. Aku sudah mati.

                                *****

“Tolong beliin tofu ya. Di rumah udah habis nih,” Hiroyuki, kakakku berteriak dari dapur. “Heh… Aku kan habis pergi main. Masih capek,” aku meraih komik di atas meja. “Ayolah, kan aku sudah masak. Kamu hanya perlu beli tofu,” sekarang sosok yang berteriak tadi ada di belakangku. Ia mengambil komik yang sedang aku baca. “Iiiihh kakak! Aku lagi baca,” aku menggerutu. “Kazumi. Jangan malas malasan. Kalo ga beli tofu kamu ga akan ku beri kare!” Hiroyuki mengancam. Aku terperanjat. Jika tidak membeli tofu, aku tidak akan dapat makan. Padahal aku baru saja bermain seharian. “ah ok ok,” aku segera mengambil uang yang di sodorkan kakakku dan melesat. “Hati hati!” Kakak berteriak sebelum aku menutup pintu.

“Aduh panas banget sih,” aku menengadah. Sinar matahari terik sekali di bulan ini. Setelah mendapat tofu aku segera membayarnya. Uangnya masih tersisa dan aku memakainya untuk membeli es krim. “Kakak tak mungkin marah kalo cuma beli es krim,” aku menggenggam es krim di tangan kananku dan plastik berisi tofu di tangan kiriku. Jalanan yang kulalui sepi. Mungkin karena tidak ada yang mau keluar panas begini. 

“Miaaw…” Aku segera menoleh. “KUCING!” aku berlari kecil mengikuti arah suara. Suara itu berasal dari depan pintu toko cake yang sudah tutup. “Haai kucing,” aku mendapati empat anak kucing yang berada dalam kardus. “Mana induk kalian? Kalian sudah makan?” Tanyaku yang menyesal karena tadi tidak membeli sosis untuk kucing kucing itu. Saat sedang membelai kepala mereka telingaku menangkap suatu suara yang hendak menuju kemari. Suara mobil pikirku. Aku yang tidak peduli hanya mengangkat bahu. Namun pilihanku untuk tidak peduli tadi merupakan penyesalan terbesarku kemudian. 

Aku mendengar suara mobil yang semakin keras. Karena terganggu aku menoleh dan aku mendapati sebuah taksi yang sedang melaju kencang ke arahku.

                               ****

“Penyebab kecelakaan karena sopir taksi mabuk,” aku menatap perempuan itu sayu. Aku sudah mulai percaya semua ini. Semuanya bukan ilusi. Dan kejadian beberapa menit lalu saat aku menjadi korban, itu terjadi. Aku menghela nafas. Aku tidak bisa menyalahkan kakakku, orang yang menyuruhku membeli tofu dan berakhir seperti ini. Mungkin sekarang kakakku sedang menyesal. Aku yakin aku hanya bisa tersenyum. 

“Catatan hidupmu baik. Tidak pernah berbuat jahat, berteman sesama, dan patuh kepada orang tua. Bagus. Namun kamu terkadang membangkang kakakmu bukan?” Aku hanya bisa meringis. Itu semua benar. “Apa cita-citamu?” Pikiranku melayang layang ketika diberi pertanyaan itu. “Belum tau,” ucapku singkat. “impian?” Bukannya sama aja ya. “Baik belum terpikirkan ya,” perempuan itu menulis sesuatu di kertas. 

Tiba tiba lantai yang aku pijak bergetar. Langit-langit seakan ingin runtuh. Barang barang sudah berjatuhan, bunyinya tak karuan. “Hah masa di sini ada gempa?” Aku bingung sambil menahan tawa. “Di tempat orang mati juga ada gempa,” aku berusaha mengunci mulut rapat. “Hei cepat keluar,” perempuan ini mendorongku menggunakan tongkat yang entah muncul dari mana. “Ah iya,” aku berusaha melindungi kepala dan mencari tempat berlindung. Saat ingin turun tangga, seseorang menabrakku dengan kencang. Aku yang belum sempat menahan diri terjatuh. Aku melayang bebas selama sepersekian detik sebelum kepalaku terantuk ujung anak tangga…

                                *

“Oi bangun. Mimpi apaan sih sampe jatuh kaya gitu,” aku segera membuka mata. “Udah bangun belum sih,” sontak aku menoleh. Hiroyuki, kakakku sedang berdiri beberapa meter. Ia mengenakan celemek. Hah! aku terperanjat. Aku melihat Hiroyuki yang sekarang tertawa melihatku berada di atas lantai. “Kau mimpi apa sih? Hahaha,” Hiroyuki tertawa. Sendok sayur yang sedang dipegangnya sampai terjatuh. Mataku sekarang memburam. Dan perlahan tetes demi tetes air mata mengalir. Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. 

“Eeeh lah kok nangis aku kan cuma nanya,” Hiroyuki menghampiriku. Ia duduk di sebelahku. “Huwaaaa,” aku menangis tambah kencang. Hiroyuki kaget karena tangisku makin menderas. Ia mengambilkan beberapa tisu. “Kenapa sih? Bangun tidur kok nangis,” tangisku belum berhenti. Hiroyuki bangkit ia kembali ke dapur dan balik lagi. “Nih pudding coklat mau ga? Kalo ga berhenti aku makan,” ucapnya mengambil sendok dan berpura pura memakan pudding. Aku segera merebut piring itu. “Giliran makanan cepet,” sindirnya. Aku hanya merengut. “Mimpi buruk,” aku mulai menceritakan dari awal hingga akhir. 

“Wih mimpi mu seram amat,” Hiroyuki membuat mimik wajah ketakutan. Aku mengangguk setuju. “Makanya kalo dimintain tolong mau,” ucap Hiroyuki yang hendak berdiri. “Apaan sih. Apa hubungannya coba?” Aku bersungut-sungut. Mengikutinya menuju dapur. “Mau bantuin masak yaaa? Giliran dikasih mimpi kaya gitu baru mau bantuin,” Hiroyuki nyengir. Membuat kazumi melempar sendok ke arahnya.  “Hei hei,” Hiroyuki berlindung dari balik nampan. “Rasakan,” aku menjulurkan lidah. “Oh ya sudah ga kuberi kare,” ancam Hiroyuki. “Huuu kakak ga kasih makan. Nanti aku aduin mama,” dengan sigap aku menghindar dari sendok yang melayang. “Hehe ga kena,” aku balas melempar sendok dan telak mengenai tangan kakakku. Dan selama 10 menit ke depan dapur kami seperti kapal pecah. Kami tidak sadar sedari tadi sedang perang sendok. Dan tiba tiba saja mama pulang. Ia segera memasuki dapur yang sudah tidak karuan. “Apa ini?” Ucapnya sambil memijat pelipis. Aku dan Hiroyuki lempar pandang. “Hehe maaf ma,” Aku tertawa diikuti ringisan Hiroyuki. (AZH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *